Nama   : Maya Fitriana

NRP    : C14100024

Laskar :  2

Keberhasilan Tak Semudah Membalikkan Telapak Tangan

Disebuah Universitas Teknik Mesin ternama  di suatu kota terdapat terdapat tiga orang mahasiswa kurang mampu yang memiliki rasa persaudaraan yang erat, bagi mereka susah dan senang harus dilalui bersama-sama. Ketiga orang tersebut adalah Robin, Raju dan Gundar.

Raju adalah anak seorang kurir. Kakak Raju mengalami gagal mental sehingga dimasa tuanya tidak ada seorang lelaki pun yang ingin meminangnya. Semua anggota keluarganya berharap Raju dapat menjadi seorang Insinyur agar dapat membantu keluarga memenuhi kebutuhan hidup yang layak. Banyaknya orang yang menghina keluarga Raju semakin membuat Raju ingin secepatnya meraih gelar tersebut.

Raju merupakan mahasiswa berprestasi di universitas tersebut. Setiap akhir tahun ajaran namanya pasti akan disebut. Tetapi belakangan ini Raju tidak lagi menjadi mahasiswa berprestasi karena ia selalu dikalahkan oleh Demon, seorang mahasiswa sombong yang selalu merasa dirinya paling pintar. Demon selalu berusaha mengganggu semua mahasiswa yang sedang belajar pada malam sebelum ujian agar dirinya bisa menjadi yang terbaik.

Menurunnya prestasi Raju membuat beasiswa yang diterimanya berkurang, bahkan kini ia semakin pesimis untuk dapat meraih gelar yang sangat diinginkannya tersebut karena semangat belajarnya terus menurun. Ia selalu merasa tidak percaya diri untuk menunjukkan penemuan barunya karena Demon telah mencuri rencananya dan membuat alat yang lebih hebat dari rencana Raju. Semakin hari Raju selalu merasa tertinggal jauh oleh Demon.

Gundar adalah anak seorang supir pribadi yang bekerja pada tuan Ramos (orang yang disegani di kota tersebut). Tuan Ramos selalu memenuhi kebutuhan Gundar dalam bidang pendidikan asalkan Gundar mau bersekolah di teknik mesin. Ayahnya pun selalu memaksa Gundar untuk menyukai bidang tersebut meskipun dalam lubuk hatinya Gundar ingin menjadi seorang juru foto professional. Gundar selalu tidak bisa menolak kemauan ayahnya karena ayahnya merasa memiliki hutang budi pada tuan Ramos.

Keterpaksaannya bersekolah di teknik mesin membuat Gundar tidak pernah berprestasi bahkan ia cenderunng menjadi mahasiswa bodoh di universitas tersebut. Saat teman-teman yang lain sibuk belajar, ia malah pergi ke hutan untuk mencari objek-objek fotonya. Setiap kali ada surat panggilan untuk ayahnya agar menghadap pak Direktur (pemimpin universitas), Gundar selalu membuangnya dan meminta pertolongan Robin untuk memberi alasan – alasan yang masuk akal.

Robin, adalah seorang yatim piatu yang berhasil masuk universitas tersebut atas bantuan majikannya. Robin memang anak yang cerdas dan memiliki kemauan yang tinggi untuk bersekolah sehingga majikannya mau membiayai sekolah Robin. Robin seorang mahasiswa yang selalu menentang keputusan-keputusan sang direktur yang dianggap mematikan kretifitas mahasiswa dan selalu bertindak otoriter.

Robin adalah sosok yang sangat tangguh dan rela berkorban demi teman-temannya. Robin rela meninggalkan kelas untuk membantu Raju menunggui ayahnya yang sedang sakit. Hal itu dilakukannya agar Raju tidak tertinggal oleh Demon. Saat Raju mulai malas belajar, Robin selalu mengingatkan bahwa keluarganya menanti keberhasilan dirinya. Robin bahkan berhasil meyakinkan ayah Gundar bahwa sesuatu yang dipaksakan tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. Robin berhasil membuat ayah Gundar untuk bisa menolak bantuan tuan ramos dan tidak memaksa Gundar untuk sekolah di teknik mesin, bahkan ayah Gundar kini mendukung keinginan anaknya untuk menjadi seorang juru foto yang handal.

Pak Direktur sangat membenci ketiga mahasiswa tersebut karena mereka pernah dengan tidak sengaja mengencingi rumah pak Direktur. Mereka juga memaksa masuk dalam pesta pernikahan anak pak Direktur hanya untujk menumpang makan. Mereka pun ketahuan mengubah pidato Demon saat berpidato di depan pak Menteri. Mereka mengubah pidato tersebut dengan kata-kata yang membuat pak Direktur merasa malu dan dianggap tidak bisa mendidik mahasiswanya.

Diantara ketiga orang tersebut hanya Robin yang benar-benar menyukai mesin. Ia selalu berhasil menciptakan alat-alat terbaru, tetapi semua penemuannya dianggap aneh dan tidak berguna oleh pak Direktur karena kebenciannya pada Robin. Robin pun tetap menerima semua celaan atas penemuannya tersebut karena memang itu kesalahan Robin sendiri, bahkan akibat kesalahannya mengubah pidato Demon, Robin dan kawan-kawannya di skors dan dikeluarkan dari asrama.

Pada malam hari saat mereka di usir, kota dilanda hujan deras dan banjir yang mengakibatkan lalu lintas terhambat. Saat itu pula anak pak Direktur terjebak dalam kubangan banjir saat hendak melahirkan. Melihat orang yang kesusahan, Robin dan teman-temannya segera menolong tak peduli siapa yang mereka tolong. Robin membawa anak direktur ke ruang UKS. Robin lalu menghubungi dokter dengan menggunakan fasilitas webcam.

Ketika anak pak Direktur tidak kuat lagi untuk menarik nafas, listrik padam dan satu-satunya cara untuk mengelurkan bayi adalah dengan bantuan alat penyedot bayi. Mereka semua tertegun bagaimana bisa mendapatkan alat tersebut di gedung sekolah. Robin berusaha memutar otak dan akhirnya ia memerintahkan Gundar untuk mencari alat penyedot debu. Robin mengubah alat tersebut dengan ujunya diberi belahan bola karet dan dibentuk sedemikian rupa sehingga membentuk corong. Robin juga menyesuaikan tekanannya agar tidak terlalu tinggi.  Lalu ia memerintahkan Raju untuk mengambil accu mobil sebagai sumber listrik. Pak Direktur hanya tediam dan terpana akan kecerdikan Robin. Alat itu kemudian berhasil mengeluarkan bayi dari rahim ibunya. Seketika itu pula pak Direktur memeluk bangga Robin dan menerimanya kembali sebagai muridnya.

Saat wisuda, Robin terpilih menjadi mahasiswa berprestasi. Robin selalu mempunyai keinginan untuk menciptkan sekolah sesuai dengan keinginannya. Ia ingin sekolahnya berbeda dengan sekolah-sekolah yang lain. Robin, Raju, dan Gundar pun berpisah untuk mencapai cita-cita mereka masing-masing.

Gundar kini telah menjadi seorang juru foto handal yang selalu menerbitkan karya-karyanya setiap tiga bulan sekali. Raju berhasil bekerja sebagai konsultan mesin di sebuah perusahaan ternama di negaranya. Sedangkan Robin, lama tak terdengar kabar tentang dirinya, tetapi setelah diselidiki ternyata Robin kini telah berhasil menciptakan sekolah yang sesuai dengan apa yang diinginkannya. Ia pun berhasil menjadi seorang ilmuwan terkenal yang memiliki 400 hak paten, bahkan negara Jepang pun ingin merekrut ilmuwan tersebut.

Keyakinan Robin selama ini benar-benar terwujud, bahwa apabila kita selalu bekerja keras, pantang menyerah dan selalu bisa menerima pendapat orang lain terhadap diri kita maka kesuksesan akan mengikuti dan keberhasilan dapat diraih. Keberhasilan yang sesungguhnya bukanlah sesuatu yang dipaksakan dan dituntut harus sempurna.